Sabtu, 18 April 2015

WALANG SANGIT, BURUNG DAN TIKUS

MENGENDALIKAN WALANG SANGIT, WALANG HIJAU, BURUNG PIPIT DAN TIKUS YANG RAMAH LINGKUNGAN DGN CLEAROPT 20 SC

     Hama walang sangit,walang hijau ,burung pipit dan tikus merupakan hama paling merugikan dan menjadi momok petani padi. Walang hijau dan walang sangit dapat menimbulkan potensi kerugian hingga 80 % kedua hama ini menyerang tanaman padi dengan menghisap bulir padi yang masih muda sehingga menyebabkan bulir menjadi hampa,sedang walang hijau lebih cenderung memakan daun daun padi dari daun yang tua hingga daun yang muda,.Demikian juga burung pipit dalam jumlah koloni yg besar mampu merusak bulir padi yg mulai menguning hama ini cukup sulit di kendalikan karena dapat terbang lincah.
Tikus juga merupakan hama yang paling sulit dikendalikan karena mempunyai daya ingat yg kuat dan sangat cerdik.Racun racun tikus yang diumpankan juga kurang begitu efektif karena sekali makan mati tikus yang lain tidak mau makan,disamping itu perkembangan popuasinya juga sangat cepat.
     walang sangit dan walang hijau sangat sulit dikendalikan karena banyak yang sudah kebal dengan bahan aktif pestisida kimia / sintetik.Dibeberapa wilayah di indonesia petanipun sudah mencampur atau mengoplos beberapa bahan aktif pestisida masih belum mampu mengendalikan serangannya bahkan cenderung lebih ganas, sebagian yang sudah terserang parah petani memilih membiarkan tanamannya puso karena sudah kehabisan akal dan upaya.
     Cara mengendalikan ; 
1.Hama walang sangit dan walang hijau
Bila kedua hama ini masih dalam jumlah sedikit pengendalian sebaiknya menggunakan cara preventif dengan dosis 2 ml / lt penyemprotan dimulai dari pinggiran mengelilingi berakhir ditengah,( seperti obat nyamuk bakar ). Tetapi bila bila hama ini sudah sangat mengganggu atau jumplah populasi sdh banyak gunakan dosis 3 ml / lt. Penambahan bahan penembus ( p3 ) pada waktu aplikasi akan lebih memuaskan hasilnya karena knock down ( jarak mati setelah aplikasi ) lebih cepat dan dapat menghemat penggunaan dan mengoptimalkan pestisida.Waktu penyemprotan paling baik pada pagi hari atau sore jelang petang.
Aplikasi pada saat matahari sudah terik kurang optimal karena walang akan bergerak lebih lincah serta bahan aktifnya lebih mudah terurai oleh sinar matahari.Usahakan waktu menyemprot cairan yang keluar dalam bentuk kabut jangan bentuk butiran karena selain boros sasaran yang tersembunyi tidak bisa dijangkau.Bila populasi walang sangat padat dianjurkan alat semprotnya menggunakan mist blower .

2.Hama burung pipit dan Tikus
3 menit setelah aplikasi
Kedua hama ini juga mempunyai pergerakan yang sangat lincah oleh karena itu penyemprotan merata di semua laha tanaman termasuk pematang pematangnya yg biasa dijadikan sarang tikus.
Dosis yang dianjurkan 3-3.5 ml / liter air.Interval penyemprotan melihat situasi dan kondisi dilapangan.
Efek dari penyemprotan ini burung pipit dan tikus enggan mendekat dan memakan bulir padi dan pergi menjauh,bila lubang tikusnya disemprot anak tikus yang masih dalam lubang akan mati keracunan dalam waktu 3-5 hari. bila ingin membasmi / mematikan burung pipit dapat mencampur 3 bahan aktif  antara lain clearopt 20 sct ( 3 ml / lt )+ biagro 60 ec ( 2.5 ml / lt ) + BPMC ( 4-4.5 ml / lt ) dan p3 ( 0.25 ml / lt )
semua dilarutkan terlebih dahulu dalam wadah ember yang berisi air yang terlebih dahulu di maukkan p3 agar elmulsi terbentuk.Aplikasi dihentikan 20 hari sebelum panen..




CLEAROPT 20 SC BACTERISIDA BOTANI ( ORGANIK ALAMI )

     Bakterisida pendatang baru dari golongan botanical yang terbukti sangat efektif mengendalikan beberapa penyakit tular tanah baik yang disebabkan oleh Bakteri maupun cendawan .
CLEAROPT yang merupakan bakterisida botanik dengan bahan aktif benzokarbonil 20 gr / lt bekerja secara kontak dan meracuni sistem pernapasan opt.selain .sebagai bakterisida clearopt juga bersifat repelent ( penolak ) untuk beberapa OPT seperti lalat buah,burung pipit, dan tikus.
     Dosis aturan pakai :
1. Untuk fumigan ( sterilisasi ) lahan sebelum ditanami dosis yang dianjurka 2 ml / lt dengan disemprotkan pada bedengan setengah jadi dan bedengan jadi sebelum ditutup mulsa.
2. Untuk mengendalikan penyakit layu baik yang disebabkan oleh serangan bakteri maupun cendawan ( jamur ) dosis yang dianjurka 2-2.5 ml dengan cara dikocorkan pada lubang tanam sebanyak 100 - 200 ml larutan jadi.
3. Untuk mengendalikan serangan bakteri pada tanaman  padi,jagung,kacang kacangan,melon,cabai,semangka,kentang dn lain lain dosis yang dianjurkan 2.5 ml / lt atau 35 ml pertangki14 liter.Penyemprotan awal sebaiknya seluruh bagian tanaman berikut bedengan dan paritnya disemprot untuk mematikan bibit penyakit yang sdh terlanjur menyebar.
4. Untuk penolak burung pipit, lalat buah dan tikus dosis yang dianjurkn 3 ml / lt atau 42 ml pertangki 14 lt.
5. Untuk mengendalikan Lalat kandang pada peternakan ayam broiler dosis yang dianjurkan 3 ml / lt.
     Kelebihan dari bakterisida ini antara lain ;
* Tidak menyebabkan opt menjadi kebal
* Dosis konsentrasi rendah.
* Ramah lingkungan karena terbuat / berasal dari isolasi tanaman
* Mudah terdegradasi oleh sinar ultraviolet matahari.
* Tidak meninggalka residu di produk akhir
* Dapat di campur dengan insktisida maupun fungisida baik itu yang sintetik maupun organik.
* Bekerja secara cepat

NB : satu tutup luar clearop berisi 30 ml


ANTI kERITING

Anti ViRus Bulai, Mozaik, Keriting dan CVPD (Jerruk)


     Produktivitas tanaman hortikultura di Indonesia umumnya masih sangat rendah dari potensi yang sebenarnya,hal ini dikarenakan oleha serangan porganisme pengganggu tanaman yang sulit dikendalikan. Salah satu OPT yang banyak menimbulkan kerugian sampai menurunkan produksi hingga 90% adalah OPT dari jenis virus.
Penyakit yang disebabkan leh virus lebih sulit dikendalikan atau ditangani karena banyaknya tanaman inang dan vektor / pembawanya. penanganan vektor atau tanaman inang lebih sering terlupakan oleh petani padahal ini sangat penting sebagai salah satu komponen keberhasilan pengendalian penyakit ole virus. Pemberian nutrisi yang cukup terutama unsur p dan Mikro juga sangat mendukung ketahanan tanaman terhadap serangan virus.
     Aktor-9 sebagai antivirus pada tanaman membantu petani dalam mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh virus diatas. Anti virus ini bekerja dengan mengaktifkan pathogenesis relatif protein tanaman untuk melemahkan dan menghilangkan virus yang menyerangnya.
Aplikasi Aktor-9 pada tanaman cukup antara 2-3 kali permusim tanam pada level preventif sedang pada level kuratif 2-5 kali aplikasi per musim tanam.
Aktor-9 pada waktu aplikasi bisa dicampur atau dimix dengan insektisida,fungisida,bakterisida,pupuk organik maupun pupuknon organik,kalsium dan zat pengatur tumbuh / zpt.
     Cara pemakaian ;
A. Pada level preventif atau pencegahan
Aplikasi pertama pada umur 10 hst dengan dosis 1-1.25 ml / liter,aplikasi kedua pada umur 20-25 hst dengan dosis 1-1.25 ml /liter.kemudian diamati sampai umur 50-60 hst bila tanaman masih dalam kondisi baik penyemprotan sdh cukup tetapi bila masih belum mantab bisa diulang pada umur tersebut.Selanjutnya untuk menjaga senyawa bahan aktif tersebut selalu berada dalam jaringan tanaman perawatan rutin dengan mengggunakan primavit atau primarin b sebagai nutrsi mikro sangat dianjurkan.
B. Pada level kuratif atau pengendalian
Aplikasi pengendalian adalah aplikasi pada saat tanaman sudah terserang penyakit,pada level ini penyemprotan bisa antara 1-5 kali permusim tanam.
Dosis yang digunakan lebih tinggi daripada dosis pencegahan yaitu antara 2-2.25 ml per liter,
interval penyemprotan 5 hari sekali sebanyak 3 kali atau 15 hari penyemprotannya 3 kali.Pada waktu aplikasi sebaiknya dimix dengan pupuk primavit atau mgp,gunanya untuk memulihkan klorofil yang rusak dan untuk menutup daun yg menguning atau klorosis.
Pengulangan penyemprotan menyesuaikan kondisi tanaman bila penyemprotan awal interval 5 hari penyemprotan berikutnya antara 15-20 hari.
    
    Tanaman cabai merupakan tanaman yang banyak diminati oleh para petani atau tanaman favorit karena mempunyai nilai ekonomis yamng tinggi.Luasan tanam dari tahun ketahun semakin bertambah.
Salah satu kendala utama yang dihadapi oleh petani adalah masalah hama penyakit yang sangat sulit dikendalikan.Identifikasi yang terlambat serta ketidak tahuan petani turut andil semakin sulitnya mengendalikan penyakit yang menyerangnya.
Penyakit utama tanaman cabai yang sangat sulit dikendalikan dan berpotensi tanaman gagal berproduksi adalah penyakit yang disebabkan oleh virus gemini. Virus gemini inilah yang menyebabkan tanaman menjadi kuning dan keriting. Mengapa tanaman mudah terserang oleh penyakit kuning ? karena kondisi tanaman sangat lemah daya tahan atau imun tanaman kurang hal ini disebabkan adanya kekurangan unsur zn,asam amino,pospat dan fe.
Penyakit bulai masuk saat fase tanaman pada kondisi lemah diantara umur 10.20.30,40,70 dan 80 hst.
     Vektor virus kuning adalah whitefly atau kutu kebul (Bemisia tabaci). Telur diletakkan di bawah daun, fase telur hanya 7 hari. Nimpa bertungkai yang berfungsi untuk merangkak lama hidup 2-6 hari. Pupa berbentuk oval, agak pipih berwarna hijau keputih-putihan sampai kekuning-kuningan pupa terdapat dibawah permukaan daun, lama hidup 6 hari. Serangga dewasa berukuran kecil, berwarna putih dan mudah diamati karena dibawah permukaan daun yang bertepung, lama hidup 20-38 hari. Tanaman yang terserang penyakit virus kuning menimbulkan gejala daun mengeriting dan ukuran lebih kecil.
     Cara mengendalikan :
Mengendalikan penyakit kuning yang disebabkan oleh serangan virus gemini cukup komplek dari berbagai sisi antara insektisida dan nutrisi.Gabungan keduanya akan menjadikan penyakit dan vektornya lebih mudah dikendalikan.Pemakaian pupuk nitrogen berkadar Nitrat tinggi akan mempercepat dan mempermudah tanaman terinveksi oleh virus gemini penyebabab bulai.
A. preventif ( lewat nutrisi )
1. Umur tanaman 7-30 hst kocor dengan agropos 20 ml ,irengan 30 ml dan za 10 gr, semua jadikan satu dalam ember berisi 10 lt air.kocoran 200 ml perbatang.
2. Umur tanaman 35 - 50 hst kocor dengan agropos 30 ml.irengan 40 ml, za 25 gr dan primavit 30 ml ,semua jadikan satu dalam ember berisi 10 lt air.kocoran 200 ml perbatang.
kutu kebul
3. Umur tanaman 55-100 hst semprot tanaman dengan agropos 30 - 40 ml, primavit 40 ml ,primarin b 40 ml dalam tangki 14 liter setiap 5 hari sekali.
4. Umur 10 hst semprot tanaman dengan aktor-9 dosis yang digunakan 1.25-1.5 ml per liter air.diulangi lagi pada umur 20-25 hst,bila diperlukan pengulangan ke 3 disemprot lagi pada umur 45-50 hst.

B. Kuratif 
1.pengendalian kuratif dengan menggunakan natucide 100 ec dengan dosis 30 - 60 ml pertangki 14 liter.
bila populasi kutu kebul masih rendah penyemprotan dapat dilekukan 5-7 hari sekali. 
Bila populasi kutu kebul sangat padat atau tinggi penyemprotan dilakukan setiap 3 hari sekali diselang seling dengan nutrisi diatas.3 hari sekali semprot natucide 3 hari kemudian semprot agropos,primavit dan primarin b sesuai dosis diatas.
2.Untuk virus gemininya pengendalian dengan menggunakan aktor-9 dengan intreval 5-7 hari sekali dengan dosis 2-2.5 ml per liter.


Rabu, 11 Februari 2015

Jumat, 06 Februari 2015

Decomposer

1. Decomposer From Super Farm:

Kegunaan :

  1. Mempercepat proses pengomposan bahan organik ( 3 - 5 Hari) 
  2. Menguraikan bahan organik menjadi senyawa dasar/hara yg siap diserap tanaman
  3. Menetralisir PH tanah
  4. Menghilangkan bacteri Pathogen/Penyakit
  5. Mengaktifkan dan meningkatkan aktifitas biota tanah yg menguntungkan
  6. Media penghantar, pengurai kadar racuntanah akibat  penggunaan pupuk kimia
  7. media  penghantar (starter) dlm proses fermentasi bahan organik di lapangan
Mikroorganisme Utama :
  1. Lactobacillus sp
  2. Actinimycetes
  3. Streptomyces
  4. Rhizobium sp
  5. Ectomycoriza
  6. Mould
  7. Yeast

2. DecoPrima ( Bio-Strerilizer Aerob Decomposer )

Kandungan: 
Streptomyces sp, 
Geobacillus sp, 
trichoderma sp

Keunggulan :
  • Sterilisasi mikroba pathogen dan dekomposisi media tanam, sisa tanaman dan kotoran hewan/ bahan organik
  • Efektif dlm mengendalikan penyakit layu pd tanaman
  • Efektif utk proses strerilisasi dan dekomposisi pd tambak ikan dan udang
  • Efektif utk mendekomposisi jerami pdi langsung di lahan tanpa perlu dilakukan penutupan saat proses dekomposisi berlangsung
  • Mengandung mikroba yg bersifat aerob dan termofilik
  • Memiliki kemurnian mikroba 100 % tanpa kontaminasi mikroba dari luar

Minggu, 01 Februari 2015

Sprayer Elektri / Tangki Elektrik

Sprayer Elektrik / Tangki Elektrik + Suku Cadang

1. CBA

  • Pompa = 175.000
  • Accu  = 175.000
  • Charger = 90.000
  • Potensio = 35.000






2. Escate
3. Sin-Su

Selasa, 13 Januari 2015

PUPUK

Pupuk Padat: 


  1. Sampurna :
  • Daun / Buah 100 Gr = Rp 1.500
  • Daun / Buah 500 Gr = RP 6.000



 2. Gandasil :

  • Daun 100 Gr = Rp 7.000
  • Daun 500 Gr = Rp 28.000
  • Buah 100 Gr = Rp  8.000
  • Buah 500 Gr = Rp 30.000

3. Neo Kristalon :
  • Daun 100 Gr = Rp 7.000
  • Daun 400 Gr = Rp 22.000
  • Buah 100 Gr = Rp  8.000
  • Buah 400 Gr = Rp 22.000




PUPUK CAIR :

1. DiGrow


  • Daun / Buah 250 ml = Rp 56.000
  • Daun / Buah 1Liter  = Rp 150.000
  • Daun / Buah 4 Liter = Rp 475.000




2.IRENGAN


NPK ALAMI DALAM BENTUK IONIK

     Pemakaian pupuk sintetis / kimia yang terus menerus dalam jangka waktu yang panjang tanpa diimbangi penambahan bahan organik selain menurunkan kadar organik tanah ,juga akan membuat tanah menjadi keras dan masam akibat rusaknya struktur tanah serta beberapa mikroorganisme tanah tidak dapat berkembang biak. Dengan kondisi seperti ini responsip tanah terhadap pemupukan menjadi sangat berkurang sehingga untuk meningkatkan produksi pertanian sangat sulit ditingkatkan.
     Untuk memperbaiki kondisi tanah yang sangat buruk tersebut dibutuhkan pembenah tanah yang sangat kaya akan bahan organik salah satunya dengan pemberian ASAM HUMAT .
Pemberian asam humat kelahan pertanian selain akan memperbaiki kondisi fisika,kimia,biologi tanah juga akan mengangatasi kendala pemakaian bahan organik dalam volume besar ( kompos yg biasanya 10 ton /ha).Pemberian asam humat dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman,jumlah akar lebih banyak dan lebih panjang,sehingga kemampuan akar tanaman menyerap unsur hara yg diberikan lebih banyak,jumlah hara dalam daun meningkat.
     Disamping asam humat penambahan asam fulvat yg merupakan komponen pembentuk asam humat akan dapat lebih mingkatkan kinerja asam humat itu sendiri.ASAM FULVAT sendiri mempunyai kinerja khusus sebagai suplemen tanaman,membantu menjaga kelembabpan tanah,mendukung aerasi akar,menyediakan nuttrisi penting tanaman seperti kalium,megnesium dan sulfur,meningktkan permeabilitas tanaman,memperlancar ventilasi dan fotosintesis.
     Setelah  kondisi tanah cukup sehat tanamanpun akan tumbuh dengan sehat dan produksi optimum,  unsur lain yang tak kalah penting dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman adalah asam amino fungsi utama asam amino dalam tanaman adalah sebagai komponen / bahan dasar pembentukan protein yang akan digunakan untuk pertumbuhan tanaman ( fungsi setruktural ) dan enzim ( fungsi metabolisme ).
     Sedangkan penambahan crude protein dari luar supaya kecukupan nutrisi lebih terjamin untuk pertumbuhan yang optimum.Protein berperan dalam membangun sel sel baru ,memperbaik jaringan yang rusak oleh pengaruh cuaca maupun gangguan hama penyakit.Pembentukan enzim dan hormon menjadi lebih cepat dan sempurna,tanaman menjadi lebih kebal dan tidak mudah setres oleh karena perubahan cuaca maupun karena pemangkasan dan pengangkutan nutris dari akar keseluruh bagian tanaman menjadi lebih lancar dan cepat.
     Dalam kaitananya diatas dimana dalam proses budidaya semua unsur sangat dilibatkan kami berusaha membuat suatu formulasi nutrisi yang sudah disesuaikan dengan kondisi tanah,dan tanaman .
Semua unsur diatas ada dalam produk yang berlabel IRENGAN yang merupakan nutrisi organik esensial  bagi  tanaman.
Fungsi atau kegunaan Irengan antara lain :
  1. meningkatkan pertumbuhan tanaman
  2.  meningkatkan produksi 
  3. mencegah tanaman macet tumbuh
  4. memperkaya oksigen dalam tanah
  5. meningkatkan kinerja mikroorganisme tanah dan dekomposer
  6. meningkatkan daya serap pupuk dasar dan susulan
  7. merangsang mikroba non patogen lebih represif
  8. meningkatkan PH asam menjadi netral
  9. mencuci keasaman air hujan yang tertinggal di permukaan daun
  10. dosis penggunaan cuku 20 liter per ha .
Kandungan dalam irengan antara lain : asam amino, protein, humic acid, filvic acid, crude protein, npk ionik.

     
    







))

Sabtu, 18 Oktober 2014

Nama Latin Tanaman


DAFTAR NAMA LATIN TANAMAN.

JENIS TANAMAN
NAMA TANAMAN
BAHASA LATIN

Tanaman Pohon
Banyan Ficus benghalensis
Bayur Jantan Pterospermum diversifolium
Bintangur Calophyllum inophyllum
Cemara Gunung Casuarina junghuniana
Cemara Kipas Thuja orientalis
Cemara Laut Casuarina equisetifolia
Drewak Microcos paniculata
Jati Tectona grandis
Kigelia Kigelia africana
Kilalayu Erioglossum rubiginosum
Kiputri Podocarpus neriifolius
Kopo Syzygium cymosum
Mahoni Swietenia mahagoni
Roseo Alba Tabebuia roseo-alba
Saman Samanea saman
Tanjung Mimusops elengi
Wangkal Albizia procera
Waru Gunung Hibiscus macrophyllus 

Tanaman Peneduh
Akasia Mutiara Acacia podalyriifolia
Akasia Acacia auriculiformis
Asam Jawa Tamarindus indica
Bintaro Cerbera odollam
Dadap Merah Erythrina crista-galli
Flamboyan Delonix regia
Glodokan Polyalthia longifolia
Kalistemon Callistemon viminalis
Kembang Merak Caesalpinia pulcherrima
Kersen Muntingia calabura
Kol Banda Pisonia alba
Kordia Cordia sebestena
Saman Samanea saman
Tanjung Mimusops elengi 


Ground Cover
Bunga Balon Platycodon grandiflorus
Kacang Hias Arachis pintoi


Tanaman Bunga
Ambre Pelargonium x hortorum
Anyelir Dianthus caryophyllus
Asoka Saraca indica
Azalea Putih Rhododendron mucronatum
Azalea Ungu Rhododendron pulchrum
Boroco Celosia argentea
Bugenvil Bougainvillea spectabilis
Bugenvil Bougainvillea glabra
Bunga Jepun Nerium oleander
Bunga Kana Canna indica
Bunga Krisan Chrysanthemum x grandiflorum
Bunga Krisan Chrysanthemum maximum
Bunga Matahari Helianthus annuus
Bunga Pagoda Clerodendron paniculatum
Bunga Pukul Empat Mirabilis jalapa
Cantik Manis Portulaca grandiflora
Cocok Botol Tagetes erecta
Dahlia Dahlia pinnata
Flamboyan Delonix regia
Herbras Gerbera jamesonii
Hortensia Hydrangea macrophylla
Jengger Ayam Celosia cristata
Kamboja Jepang Adenium obesum
Kembang Anting-anting Fuchsia speciosa
Kembang Kertas Zinnia elegans
Kembang Merak Caesalpinia pulcherrima
Kembang Sepatu Hibiscus rosa-sinensis
Kembang Sungsang Gloriosa superba
Kordia Cordia sebestena
Lasiandra Tibouchina semidecandra
Mawar Apel Rosa villosa
Melati Jasminum sambac
Nona Makan Sirih Clerodendrum thomsonae
Nusa Indah Mussaenda philippica
Petunia Petunia hybrida
Pisang Hias Heliconia colinsiana
Soka Ixora coccinea
Stepanot Ungu Pseudocalymma alliaceum
Tapak Dara Catharanthus roseus
Violces Saintpaulia ionantha
Wijaya Kusuma Epiphyllum oxypetalum
Yellow Saraca Saraca thaipingensis 


Tanaman Pangan
Cantel Sorghum bicolor
Hanjeli Coix lacryma-jobi
Jagung Zea mays
Kacang Hijau Phaseolus radiatus
Kentang Solanum tuberosum
Padi Oryza sativa
Sagu Metroxylon sagu
Suweg Amorphophallus campanulatus
Ubi Jalar Ipomoea batatas


Tumbuhan Beracun
Alamanda Allamanda cathartica
Bintaro Cerbera odollam
Bunga Jepun Nerium oleander
Bunga Pukul Empat Mirabilis jalapa
Ginje Thevetia peruviana
Herba Mala Euphorbia cotinifolia
Jarak Kepyar Ricinus communis
Kastuba Euphorbia pulcherrima
Kembang Sungsang Gloriosa superba
Kiapu Pistia stratiotes
Lidah Buaya Aloe vera
Mahkota Duri Euphorbia milii
Mindi Melia azedarach
Palem Botol Hyophorbe lagenicaulis
Philodendron Philodendron selloum
Puring Codiaeum variegatum
Tahi Ayam Lantana camara
Tapak Dara Catharanthus roseus
Tembakau Nicotiana tabacum


Tumbuhan Aroma
Cempaka Cina Artabotrys odoratissimus
Cempaka Putih Michelia alba
Gaharu Aquilaria moluccensis
Kemuning Murraya paniculata
Kenanga Cananga odorata
Melati Jasminum sambac
Rosmari Rosmarinus officinalis
Sedap Malam Polianthes tuberosa


Umbi dan Rimpang
Bangkuang Pachyrhizus erosus
Gadung Dioscorea hispida
Ganyong Canna edulis
Garut Maranta arundinacea
Jahe Zingiber officinale
Kunyit Curcuma longa
Porang Amorphophallus oncophyllus
Singkong Manihot esculenta
Suweg Amorphophallus campanulatus
Ubi Jalar Ipomoea batatas


Tanaman Liar
Anggrek Tanah Spathoglottis plicata
Ara Ficus racemosa
Aur-aur Commelina diffusa
Bakau Rhizophora mangle
Bamban Donax cannaeformis
Bayam Pasir Cyathula prostrata
Belimbing Tanah Oxalis barrelieri
Bunga Bintang Isotoma longiflora
Buni Antidesma bunius
Cacabean Ludwigia hyssopifolia
Ceplukan Peru Physalis peruviana
Ceplukan Physalis angulata
Eceng Gondok Eichornia crassipes
Eceng Padi Monochoria vaginalis
Edelweis Leontopodium alpinum
Ekor Anjing Heliotropium indicum
Embun Pagi Dissotis rotundifolia
Euphorbia Dentata Euphorbia dentata
Getih-getihan Rivina humilis
Ilalang Imperata cylindrica
Kangkung Hutan Ipomoea fistulosa
Kaso Saccharum spontaneum
Kayu Pahang Premna serratifolia
Kigelia Kigelia africana
Kongea Congea tomentosa
Kumis Kucing Orthosiphon stamineus
Mengkrengan Polygonum barbatum
Mikania Mikania micrantha
Murbai Morus alba
Paku Kawat Lygodium scandens
Paku Laut Acrostichum aureum
Paku Rasam Gleichenia linearis
Pandan Besar Pandanus tectorius
Pandan Laut Pandanus odoratissimus
Pecut Kuda Stachytarpheta jamaicensis
Pletekan Ruellia tuberosa
Pohon Oktopus Brassaia actinophylla
Putri Malu Mimosa pudica
Rambusa Passiflora foetida
Rasberi Rubus idaeus
Rumput Bebek Echinochloa colona
Rumput Belulang Eleusine indica
Rumput Gajah Pennisetum purpureum
Rumput Merak Themeda arguens
Rumput Palem Setaria palmifolia
Sri Pagi Ipomoea cairica
Tapak Kuda Ipomoea pes-caprae
Urang Aring Eclipta alba
Wedelia Wedelia trilobata


Tanaman industri
Bit Beta vulgaris
Cengkeh Syzygium aromaticum
Jarak Kepyar Ricinus communis
Jarak Pagar Jatropha curcas
Kakao Theobroma cacao
Karet Hevea brasiliensis
Kelapa Cocos nucifera
Kopi Coffea arabica
Lada Piper nigrum
Mimba Azadirachta indica
Pinus Pinus merkusii
Rosela Hibiscus sabdariffa
Sawit Afrika Elaeis guineensis
Sawit Amerika Elaeis oleifera
Tebu Saccharum officinarum
Teh Camellia sinensis
Tembakau Nicotiana tabacum


Sayur-sayuran
Bayam Tahun Amaranthus hybridus
Beligo Benincasa hispida
Belinjo Gnetum gnemon
Beluntas Pluchea indica
Bit Beta vulgaris
Buncis Phaseolus vulgaris
Daun Gedi Abelmoschus manihot
Gambas Luffa acutangula
Genjer (Jw) Limnocharis flava
Jamur Shiitake Lentinula edodes
Kacang Babi Vicia faba
Kacang Biduk Dolichos lablab
Kacang Bindi Abelmoschus esculentus
Kacang Gude Cajanus cajan
Kacang Panjang Vigna sinensis
Kangkung Air Ipomoea aquatica
Kangkung Darat Ipomoea reptana
Kara Benguk Mucuna pruriens var. utilis
Katuk Sauropus androgynus
Kecipir Psophocarpus tetragonolobus
Kluwih Artocarpus camansi
Kremah Alternanthera sessilis
Kubis Brassica oleracea var. capitata
Labu Siam Sechium edule
Lobak Raphanus sativus var. hortensis
Mangkokan Nothopanax scutellarium
Mentimun Cucumis sativus
Nangka Artocarpus heterophyllus
Pare Momordica charantia
Parsley Petroselinum crispum var. crispum
Petai Cina Leucaena leucocephala
Petai Parkia speciosa
Ranti Solanum nigrum
Sawi Daging Brassica juncea
Sawi Hijau Brassica rapa var. parachinensis
Selada Lactuca sativa
Terubuk saccharum edule
Terung Belanda Cyphomandra betacea
Terung Pipit Solanum torvum
Terung Solanum melongena
Tomat Solanum lycopersicum
Turi Sesbania grandiflora
Wortel Daucus carota


Rempah-Rempah
Asam Jawa Tamarindus indica
Bawang Bombay Allium cepa
Bawang Daun Allium fistulosum
Bawang Merah Allium cepa var. aggregatum
Bawang Putih Allium sativum
Cabai Rawit Capsicum frutescens
Cabai Capsicum annum
Cengkeh Syzygium aromaticum
Jahe Zingiber officinale
Kayu Manis Cinnamomum burmannii
Kemiri Aleurites moluccana
Kencur Kaempferia galanga
Kunyit Curcuma longa
Lada Piper nigrum
Lengkuas Merah Alpinia purpurata
Lengkuas Alpinia galanga
Pala Myristica fragrans
Seledri Apium graveolens
Wijen Sesamum indicum


Buah-Buahan
Alpukat Persea americana
Anggur Vitis vinifera
Apel Pyrus malus
Belimbing Manis Averrhoa carambola
Belimbing Wuluh Averrhoa bilimbi
Bidara Zizyphus mauritiana
Buah Mentega Diospyros blancoi
Buah Naga Hylocereus undatus
Buah Samarinda Carissa carandas
Buni Antidesma bunius
Ceremai Phyllanthus acidus
Cimarrona Annona montana
Delima Punica granatum
Dewandaru Eugenia uniflora
Duku Lansium domesticum
Durian Durio zibethinus
Duwet Syzygium cumini
Granadila Merah Passiflora coccinea
Jambu Air Eugenia aquea
Jambu Batu Psidium guajava
Jambu Bol Syzygium malaccense
Jambu Monyet Anacardium occidentale
Jeruk Kingkit Triphasia trifolia
Jeruk Manis Citrus sinensis
Jeruk Nipis Citrus aurantifolia
Jeruk Pepaya Citrus medica var. proper
Jeruk Purut Citrus hystrix
Kawista Limonia acidissima
Kedondong Spondias dulcis
Kelapa Cocos nucifera
Kemiri Aleurites moluccana
Kenari Jawa Canarium commune
Kepel Stelechocarpus burahol
Kepuh Sterculia foetida
Kersen Muntingia calabura
Kiwi Actinidia chinensis
Kluwih Artocarpus camansi
Kurma Phoenix dactylifera
Labu Kuning Cucurbita moschata
Lokwat Eriobotrya japonica
Lontar Borassus flabellifer
Maja Aegle marmelos
Mangga Mangifera indica
Manggis Garcinia mangostana
Markisa Besar Passiflora quadrangularis
Markisa Passiflora edulis
Matoa Pometia pinnata
Melon Cucumis melo var. reticulatus
Melon Makuwa Cucumis melo var. makuwa
Mundu Garcinia dulcis
Murbai Morus alba
Nam Nam Cynometra cauliflora
Nangka Artocarpus heterophyllus
Nenas Ananas comosus
Pepaya Carica papaya
Pepino Solanum muricatum
Pisang Musa paradisiaca
Rambutan Nephelium lappaceum
Rasberi Rubus idaeus
Salak Salacca zalacca
Salam Syzygium polyanthum
Sawo Hijau Chrysophyllum cainito
Sawo Kecik Manilkara kauki
Sawo Manila Manilkara zapota
Simpur Pilipina Dillenia philippinensis
Simpur Dillenia indica
Sirsak Annona muricata
Srikaya Annona squamosa
Stroberi Fragaria x ananassa
Sukun Artocarpus communis
Tomat Solanum lycopersicum


Tanaman Obat
Adas Manis Anethum graveolens
Alamanda Allamanda cathartica
Anggur Vitis vinifera
Apel Pyrus malus
Aren Arenga pinnata
Asam Jawa Tamarindus indica
Bakungan Hymenocallis litthoralis
Bamban Donax cannaeformis
Bambu Rejeki Dracaena sanderiana
Bambu Tali Asparagus cochinchinensis
Bandotan Ageratum conyzoides
Bangkuang Pachyrhizus erosus
Bangun-bangun Coleus amboinicus
Bawang Daun Allium fistulosum
Bawang Merah Allium cepa var. aggregatum
Bawang Putih Allium sativum
Bawang Sebrang Zephyranthes candida
Beligo Benincasa hispida
Belimbing Manis Averrhoa carambola
Belimbing Tanah Oxalis barrelieri
Belimbing Wuluh Averrhoa bilimbi
Melinjo Gnetum gnemon
Beluntas Pluchea indica
Beringin Ficus benjamina
Biduri Calotropis gigantea
Binahong Anredera cordifolia
Bintangur Calophyllum inophyllum
Boroco Celosia argentea
Bratawali Tinospora crispa
Buah Naga Hylocereus undatus
Buah Samarinda Carissa carandas
Bugenvil Bougainvillea glabra
Bunga Bintang Isotoma longiflora
Bunga Jepun Nerium oleander
Bunga Kala Zantedeschia aethiopica
Bunga Kancing Gomphrena globosa
Bunga Krisan Chrysanthemum x grandiflorum
Bunga Lilin Pachystachys lutea
Bunga Matahari Helianthus annuus
Bunga Pagoda Clerodendron paniculatum
Bunga Pukul Empat Mirabilis jalapa
Bungur Lagerstroemia speciosa
Buni Antidesma bunius
Cabai Rawit Capsicum frutescens